7 Rumah Tradisional Ikonik untuk Dijelajahi di Indonesia
Indonesia

7 Rumah Tradisional Ikonik untuk Dijelajahi di Indonesia

Jessica J

Indonesia adalah negara kepulauan yang luas yang terdiri dari lebih dari 300 kelompok etnis yang hidup berdampingan. Setiap kelompok etnis memiliki budaya yang berbeda dengan seperangkat kepercayaan, pengetahuan, seni, hukum, dan adat istiadat yang unik. Budaya-budaya tersebut tercermin melalui segala sesuatu dalam hidup mereka, mulai dari identitas mereka, pertunjukan budaya, kerajinan, hingga bagaimana mereka membayangkan rumah ideal mereka. Rumah yang ideal menurut masing-masing suku tersebut selanjutnya tercermin melalui rumah adat atau rumah adat mereka. Rumah adat ini memiliki makna sosial bagi masyarakat. Mereka juga menunjukkan kecerdikan kelompok etnis berdasarkan arsitektur, lingkungan, dan organisasi spasial mereka. Setiap rumah adat di Indonesia juga mempertahankan tampilan yang khas. Penasaran dengan rumah adat ini? Kami telah mengumpulkan 9 rumah tradisional Indonesia yang ikonik di bawah ini, mari kita lihat!

1. Bolon, Sumatera Utara

Kadang-kadang juga dikenal sebagai rumah Gargo, rumah adat ini milik masyarakat Batak Sumatera Utara. Di masa lalu, rumah Bolon dihuni terutama oleh raja-raja Sumatera Utara. Rumah Bolon terdiri dari kayu dengan atap miring dan tiang penyangga kayu di bawah lantainya. Dinding luar rumah dihiasi dengan ornamen untuk mengusir pengaruh jahat. Ornamen-ornamen ini terdiri dari desain antropomorfik dan zoomorfik yang dicat dengan warna-warna alami.

2. Gadang, Sumatera Barat

Berarti ‘rumah besar’ dalam bahasa Minangkabau, rumah Gadang milik orang Minangkabau Sumatera Barat. Rumah adat ini disebut juga dengan rumah Bagonjong atau rumah Baanjuang. Rumah ini dikenal luas karena atapnya yang unik yang terlihat mirip dengan tanduk kerbau. Sebagai simbol persekutuan Minangkabau, rumah Gadang berfungsi terutama sebagai lembaga adat mereka. Kamar-kamar di dalam biasanya berjumlah ganjil dari tiga hingga sebelas, tergantung pada jumlah wanita dalam keluarga. Bagian luar rumah Gadang juga dihiasi dengan ukiran berbagai motif seperti tanaman, bunga, buah-buahan, atau bentuk geometris.

BACA  Mencari Sensasi Baru di Indonesia? Jelajahi 7 Destinasi yang Wajib Dikunjungi

3. Joglo, Jawa Tengah

Rumah adat ini milik masyarakat Jawa di Jawa Tengah. Beberapa karakteristik populer dari rumah Joglo termasuk atap sirap piramida, teras luas, dan tiga pintu eksterior. Nama itu sendiri berasal dari kata Tajug Loro (Juglo) yang berarti ‘dua gunung’. Gunung dianggap suci menurut filosofi Jawa. Rumah joglo biasanya ditopang oleh empat tiang utama yang disebut saka guru. Secara filosofis, teras dimaksudkan untuk menjaga hubungan antar tetangga, sedangkan pintu mencerminkan keharmonisan dan keterbukaan penghuninya. Umumnya, rumah Joglo terdiri dari delapan ruangan yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

4. Bale Sakenem, Bali

Rumah adat Bali secara teratur terdiri dari satu kompleks dengan beberapa bagian di dalamnya. Setiap bagian memiliki tujuan yang berbeda. Bagian-bagian tersebut adalah Angkul-Angkul, Aling-Aling, Sanggah, Bale Manten, Bale Sakenem (atau kadang disebut Bale Dangin atau Bale Gede), Bale Dauh, Bale Sakapat, Pawaregen, dan Klumpu/Jineng. Angkul-ankul adalah gerbang depan kompleks itu sendiri. Aling-aling berfungsi sebagai pembatas antara angkul-angkul dengan pekarangan. Sanggah berfungsi sebagai tempat ibadah pribadi bagi keluarga. Bangunan utama Bale Manten berfungsi sebagai tempat tinggal kepala keluarga dan pasangannya. Bale Sakenem berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan upacara. Bale Dauh berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Bale Sakapat berfungsi sebagai ruang rekreasi keluarga. Pawaregen berfungsi sebagai dapur tempat tinggal. Sedangkan Klumpu/Jineng berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi-padian keluarga.

BACA  6 Destinasi Wisata Alam dengan Pemandangan yang Indah di Indonesia

5. Tongkonan, Sulawesi Selatan

Terkenal dengan atapnya yang berbentuk perahu, rumah Tongkonan milik masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan. Rumah tersebut melambangkan martabat dan nilai kekeluargaan masyarakat Toraja. Rumah Tongkonan terutama berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat, baik untuk tempat tinggal, bersosialisasi, upacara, atau lumbung padi. Biasanya rumah dicat dengan empat warna utama yaitu merah, kuning, putih, joker dan hitam. Apalagi rumah tersebut sering dihias dengan kepala kerbau dan benda lain seperti kepala ayam atau patung naga.

6. Rumah Betang, Kalimantan Tengah

Rumah adat orang Dayak dari Kalimantan Barat terkenal dengan panjangnya[U1] . Panjang rumah panjang Dayak biasanya mencapai 300 meter dengan sekitar 60 keluarga yang tinggal di dalamnya. Rumah ini juga dikenal dengan rumah panggung kayu yang tinggi yang dibuat untuk menghindari banjir. Rumah panjang Dayak dibuat dengan kayu kayu tahan lama yang dikenal sebagai kayu ulin Kalimantan atau ulin. Setiap keluarga tinggal di dalam kamar yang terpisah di seberang rumah.

7. Rumah Sasak, Nusa Tenggara Barat

Ada banyak jenis rumah Sasak, yaitu Bale Lumbung, Bale Bonder, Bale Tani, Bale Jajar, Bale Kodong, dan Bale Gunung Rate. Berbicara tentang rumah Sasak, biasanya orang menyebut Bale Lumbung yang terkenal dengan bentuk atapnya yang melengkung. Seperti rumah adat lainnya, rumah Sasak mencerminkan kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Sasak.

BACA  7 Desa Wisata Terbaik di Indonesia Penuhi Keindahan Alam

Ini adalah beberapa rumah adat yang terkenal di Indonesia. Masih banyak lagi rumah adat menarik dari etnis lain yang bisa Anda temukan di sini. Selain melalui arsitektur tradisional, arsitektur Indonesia juga dikembangkan melalui perpaduan berbagai gaya sebagai hasil dari kekayaan sejarah negara. Beberapa gaya tersebut antara lain, arsitektur Islam, arsitektur kolonial, dan arsitektur pascakemerdekaan. Kunjungi mereka begitu Anda dapat melakukan perjalanan ke Indonesia! Seperti biasa, jangan lupa untuk selalu mengikuti protokol kesehatan yang ada, dengan memakai masker di tempat umum, menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan secara teratur, menghindari tempat ramai, dan meminimalkan mobilitas.